| |
 |
|
SOL PROJECT - MEDIA REVIEW - PRESS RELEASES
Berikut ini artikel tentang SOL-Project yang dimuat oleh media. Jika anda mengetahui artikel tentang SOL-Project dan belum tercantum disini, silakan mengontak kami lewat halaman kontak
World Music
Satu bumi, banyak manusia dan berbagai bunyian. Bunyi-bunyian itu memperindah kehidupan, dan mempersatukan. Mendamaikan. Dan adalah tanah air tercinta, begitu kayanya dengan aneka bunyian datang dari bermacam-macam tradisi. World Music, apa sih?
Pun ketika beberapa pihak menyebutkan, “aksi pameran jalanan” World Music kita, yang bisa menyelip di saat Karnaval-JAKARTA 2004 pada 25 Juli 2004 yang digelar persis di jantung ibukota, seolah gebrakan yang rada “kurang hentakan” atawa “kurang power”. Ah, sayang beners, bow!
Tapi apa memang benar-benar masih rada “kurang bertenaga”, saat kesempatan emas tersebut dapat diperoleh? Bagaimana tidak menjadi kesempatan emas, bahkan mungkin ‘platinum’, beraksi dengan 13 mini exotic stage di sepanjang jalan protocol utama kota metropolitan. Hari libur, pula! Oho, dan banyak musisi yang dapat terlibatpun hanya bisa geleng-geleng kepala. Takjub, terpesona, gembira, kaget, bercampur jadi satu. Di blend demikian rupa. Dan hasilnya, senyumpun mengembang waktu itu. Masih kurang?
Kurang hentakan, lantaran promosi dirasa kurang gaungnya. Tapi dengan puluhan ribu publik yang bersesakkan di areal sekeliling air mancur Bunderan Hotel Indonesia, menyaksikan aksi lanjutan lain, 477 lebih musisi perkusi dan drummer bermain bersama pada malam hari itu. Ah, apa tetap terasa kurang gaungnya?
Kapan lagi ada stage raksasa, 6 X 60 meter, di depan salah satu heritage ibukota, Hotel Indonesia yang tengah di renovasi itu? Apalagi, kata sebagian orang, publik bisa asyik nongkrong di bibir air mancur yang konon biaya pembuatannya bernilai hampir 15 milyar itu? Sebagian musisi, perkusi dan drummer tentu saja, tetap merasa bangga karena menjadi bagian dari sebuah sejarah, yang entah kapan lagi terulang.
Itulah sebuah fenomena, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dari sebuah ajang “pameran” World Music di tanah air. Sejatinya, kesempatan platinum serupa, memang dibutuhkan sebagai corong untuk meneriakkan lantang eksistensi jenis musik yang “meng-Indonesia” tersebut. Seraya, langsung menarik atensi publik kebanyakan untuk peduli pada kekayaan musik tradisi kita. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?
Kemudian ada lagi! Tiba-tiba Inul Daratista yang controversial itu, digaet meramaikan ajang festival world music internasional. Nggak begitu jauh, di negara tetangga kita, Singapura. Dan beberapa media massa menyiarkan tayangan heboh Inul lengkap dengan nge-bor nya yang disambut sukacita penonton warga negara asing di acara festival buatan Peter Gabriel, bernama WOMAD tersebut.
Lalu, World Music di tanah air, kemudian dangdut nge-bor nan kontroversial yang bahkan masih ditanggapi sinis sementara kalangan dangdut sendiri. Eh, apa hubungannya? Apakah dangdut adalah world music? Kenapa tidak, Krakatau misalnya, yang digaet meramaikan ajang event world music internasional itu, dengan embel-embel gagah, “mewakili Indonesia”?
Dangdut dianggap musik “rakyat”, karena punya akar kuat di “jalur bawah”, maka pas sebagai wakil musik tradisi Indonesia. Padahal, bukankah unsur musik India melekat erat dengan patron musik dangdut? Juga musik melayu? Tapi diberi imbuhan modern. Ya, lantas, musik tradisi India juga memang world musik kan? Ironisnya, padahal kita punya bejibun musik tradisi yang tak kalah eksotisnya. Kenapa Inul?
Padahal apa yang telah dialami sekian waktu oleh banyak pelaku world music kita, sebut saja Krakatau, Samba Sunda, Zithermania, Balawan, Discus di pelbagai acara festival internasional sejatinya tak kalah heboh. Lihat ya, mereka manggungnya di Eropa bahkan di Amerika. Penontonnya tak cuma seribu, dua ribu atawa tiga ribu orang saja. Tapi aksi mereka ditonton lima ribu, sepuluh ribu bahkan lebih!
Sekadar contoh kecil, Samba Sunda mengalami peristiwa seru serupa, di Kuching, Serawak. Mereka main “mewakili Indonesia” di ajang Rainforest Festival, di antara performer dari Australia, Afrika, Eropa dan Amerika. Mereka ditonton lebih dari dua puluh ribu orang, yang kompak bergoyang merespon musik atraktif dari 24 personil Samba Sunda! Sayang, luput dari perhatian media massa nasional….. Ah!
World Music kita memang perlu lebih “bertenaga” untuk meneriakkan eksistensinya. Karena eksistensi dangdut sebagai “part of Indonesian (world) music” telah dicatat pelbagai literature musik di mancanegara. Dan pada beberapa literature, yang dicatat memang malah dangdutnya sang maharaja yang tak pernah turun tahta, Rhoma Irama!
Dan kemudian Putumayo, label world music internasional besar dunia, sudah berancang-ancang singgah di Indonesia membawa sederet musisi terkemuka world musicnya. WOMAD organization yang dipimpin Peter Gabriel, yang saat ini bergiat serius di jalur world music, sudah menawarkan kemungkinan Indonesia menggelar pula event WOMAD sama seperti Singapura sejak dua tahun lalu.
The term worldbeat refers not to one specific style of music, but to a certain sensibility — namely, the fusion of disparate musical styles in ways that are only possible from a globalized, multicultural perspective. The results can range from Westernized pop or dance music to wild, genre-hopping experimentalism, but the central, unifying feature of worldbeat is that it's a conscious attempt to bring world music to a wider audience. Frequently, this involves modernizing traditional sounds with up-to-date technology, or borrowing the most relevant elements from Western pop and rock, which have spread all over the world and affected other nations' pop-music scenes to varying degrees(World Beat from Allmusicguide.com)
Di atas itu, adalah sebuah suasana nan meriah di seputaran 2 tahunan lalu. Waktu itu, World Music, baru mulai “dibunyikan secara nyaring” di tanah air, terutama ibukota Jakarta. Ini apa-apaan lagi, World Music, musik model gimana lagi nih? Ini model baru, broer. Eit, tapi bukan baru beneran baru, maksudnya sih, udah dikenal paling nggak sejak era 80an juga.
Tapi mending ntar dulu, apa sebenarnya sih World Music itu? Kita coba ambil saja beberapa literature yang menyebutkan, World Music sejatinya adalah sebagai bagian dari sebuah eksplorasi kreatif beberapa musisi. World Music bisa juga disebut sebagai World Beat atawa World Fusion.
Tambahan lain, juga sekalian nambahin yang diambil dari apa yang ada di situs allmusicguide.com di atas, World Music adalah sebuah wadah “baru” bagi terangkatnya musik-musik third world countries, dari Asia, Afrika dan Amerika Latin, ke pentas musik dunia. Namun dalam pengembangannya kemudian, lantas saja semangat, enerji dan ide musik-musik ethnic dari negeri dunia ketiga tersebut, diambil menjadi sebuah bungkusan baru oleh para praktisi musik barat.
Pengambilan tersebut, bisa berupa peralatan musik dengan bunyian khasnya ataupun tatanan tangga nada spesifiknya. Dan muncullah bunyi-bunyian musik “baru”, yang di barat diberi nama world music, world beat ataupun world fusion. Di dalamnya terdapat unsur-unsur ethnopop, Afropop, Afrobeat. Dan masuk dalam genre “baru” ini jenis-jenis lain seperti tribal, techno tribal, ambience dan trance (Popular Music and Globalization, hal.1 in Global Pop, World Music, World Markets by Timothy D. Taylor).
Di barat kritikus di sana juga mendeskripsikan world music sebagai musik-musik kontemporer yang diproduce from outside of mainstream American and European Rock and Pop form. Dan seringkali juga, karya kontemporer tersebut disandingkan dengan musik-musik modern pop, rock dan tehnologi peralatan musik modern. Maka sejatinya, perkembangan world music sendiri dicurigai, telah berlangsung seumuran dengan perjalanan rock n roll, bahkan mungkin lebih tua (World Beat, in All Music Guide To Rock, Produce /Published By Miller Freeman Books).
Dan western-people (baca : Amerika dan Eropa) memang lantas kian hirau dengan keberadaan “musik-musik baru” dari luar lingkungan tradisi yang ada dalam keseharian mereka. World Music pun lantas mulai diperbincangkan dimana-mana. World Music pun kemudian menjadi “rak-rak” baru di toko-toko kaset gede semisal Tower Records, dimana kabarnya pada tahun 1995 tercatat ada penjualan sekitar 2,9-3% untuk jenis world music, sama halnya dengan pencapaian classical music dan jazz.
Data di Recording Industry Association of America terakhir di tahun 2000, malah telah menembus angka 3%, dan dengan pencapaian tersebut terlihat world music mulai berpotensi “menggoyahkan” pasar musik secara keseluruhan. Malah kabarnya, tiga tahun kemudian, merangkak naik mendekatii angka 5%!
Nah di barat tuh, dengan menggunakan kendaraan baru bernama World Music tersebut, menyeruaklah nama-nama dari Afrika kayak Manu Dibango lantas Fela Anikulapo Kuti, King Sonny Ade. Nama-nama di atas, membuka jalan bagi munculnya nama-nama yang belakangan muncul, tapi lebih popular lagi macam Youssou N’Dour, Ali Farka Toure, Alpha Blondy, Baaba Mal, Angelique Kidjo, Thomas Mapfumo.
Setelah sebelumnya, sempat muncul musisi sekaligus tokoh spiritual, Ravi Shankar, yang “meramaikan” lagu Norwegian Wood milik Beatles di tahun 1965. Atau pada saat 1980an muncul pula Nusrat Fateh Ali Khan, tokoh qawwali Pakistan, dengan Eddie Vedder dari Pearl Jam dalam soundtrack film Dead Man Walking.
Keterlibatan mendalam dan aktif dari beberapa nama besar di pentas musik dunia, makin mengangkat tinggi World Music. Misalnya dengan album Graceland yang dibuat Paul Simon. Album tersebut digarap dan diselesaikan di Johannesburg, dirilis September 1986, melibatkan banyak musisi dan penyanyi tradisi Afrika (Selatan). Saat itu, Paul Simon “menduniakan” unsur rhythm musik afro mbaqanga-dance music ke pencinta musik dunia.
Graceland terbilang fenomenal, apalagi dengan kesuksesannya bertengger di charts Inggris sepanjang 101 minggu dan sempat menclok di urutan pertama. Juga menghuni charts di AS sepanjang 93 minggu dengan urutan tertinggi, nomer 3. Ada nama lain, David Byrne, penyanyi dan gitaris kelompok new wave, Talking Heads. Selepas album Naked di tahun 1988, Byrne lantas mencoba mengulik-ulik pop rock mencampurnya dengan musik Afrika dan Latin, yang kemudian melahirkan album Rei Momo. Selain itu, dilanjutkan dengan kerjasama berikutnya dengan sutradara teater kelas dunia Robert Wilson dengan The Forest, setelah sebelumnya Music for the Knees Plays.
Tak boleh dilupakan, tokoh dibalik pergerakan Womad (World Music, Art and Dance), Peter Gabriel. Gabriel meninggalkan grup yang ikut dibentuknya dan membesarkan namanya, Genesis di tahun 1975. Setelah itu, ia muncul sebagai salah satu musisi yang aktif menggali eksotika musik-musik tradisi Afrika dan bahkan Asia. Lewat album So, yang dirilis pada Mei 1986, Gabriel mulai dikenal kesaktiannya sebagai solo-performer yang mengandalkan world music.
Kemudian diikuti muncul nama-nama “besar” lain seperti Mickey Hart (Grateful Dead) lalu juga drummer Stewart Copeland dan bassist Sting dari kelompok the Police, bahkan hingga Will Smith! Belum lagi dari khasanah musik Latin seperti Gloria Estefan, Shakira, Marc Anthony sampai Los Lobos. Masuk juga dalam wilayah world music, Gypsy King.
Tetabuhan genderang world music pun makin nyaring bunyinya di pentas musik dunia. Kayaknya jadi “tanda-tanda jaman” dimana para penggemar musik menemukan apa yang disebut raw energy dan hungry enthusiasm yang telah hilang dari banyak budaya musik pop dunia, yang sering terdengar sebelumnya.
Di tahun 1987, saat adanya sebuah konperensi kecil para pelaku bisnis musik di London, mereka bersepakat untuk menambah item penjualan “musik-musik baru” yang bukan musik mainstream. Waktu itu, mereka banyak yang masih bingung, jenis musik baru itu akan diberi title apa, sehingga ada yang menyebutkannya sebagai ethnic, folk atau international. Bahkan disebut sebagai Tropical Music. Namun 3 tahun kemudian, bahkan eksistensi world music mulai menembus industri musik dunia, antara lain dengan dibukanya charts World Music oleh Billboard, majalah musik terkemuka.
Saat dibukanya charts World Music pada Mei 1990, ditulis, Based on reports from panel of 40 dealers, the world music chart lists the top 15 best-selling albums in this growing genre. The chart will run biweekly in the retail section in tandem with 25 position New Age charts under the heading Top Adult Alternative Album.
Dan world music, dengan dasar perkawinan silang lintas budaya tersebut, merambah kemana-mana. Tak hanya sebatas pada pop atau rock. Sampai menjamah jazz, contohnya dengan album Rich a la Rakha di akhir 60an, yang menampilkan kolaborasi drummer legendaries Buddy Rich dengan pemain tabla Alla Rakha dan pemain sitar Vilayat Khan. Selain itu juga termasuk rekaman Brazillian Music seperti apa yang dihasilkan Sergio Mendes, Gilberto Gil, Djavan hingga Arturo Sandoval dan Tito Puente.
Belum lagi juga menembus khasanah musik clubbing atau tehno. Seperti yang kini dikenal sebagai ethno-techno, misalnya dengan serangkaian proyek show dan rekaman oleh Nitin Swahney dan banyak lainnya. Kemudian kita berputar balik, kembali ke tanah air tercinta. Sejatinya ribuan bunyi membungkus tanah air, bebunyian yang terdengar dari berbagai-bagai etnis yang ada di seluruh penjuru nusantara. Selepas aksi heboh pada 2 tahun lalu di jantung ibukota, seperti diceritakan di atas, maka kemudian disambung pentas kolosal Megalitikum-Kuantum.
Sang penggagas dan yang menjadi project director proyek kolosal ini, Rizaldi Siagian adalah musikus sekalian akademikus. Ia lulus magister dalam etnomusikologi di San Diego State University pada 1985. Abang Rizaldi, begitu dia biasa dipanggil, menjawab keinginan pihak Harian Kompas yang dalam hal ini adalah Pemimpin Umumnya, Jacob Oetama. Dimana ingin menggelar pentas “musik Indonesia”.
Wujud dari “musik Indonesia” akhirnya adalah dengan landasan konsep, musik Indonesia harus diartikan sebagai sesuatu yang melekat pada peradaban Indonesia itu sendiri. Kemudian ditemukanlah “perekat”nya sebagai tema, Megalitikum-Kuantum. Tema ini mewadahi konsep ruang dan waktu. Dari segi waktu mewadahi Nusantara sejak jaman batu hingga era kuantum. Dan dari segi ruang, mewadahi seluruh khasanah seni yang ada di Nusantara.
Tontonan konser musik ini memang digelar dalam rangka HUT ke 40 Harian Kompas. Dalam hal komposisi dan pengolahan materi musiknya, yang berintikan musik dari Nias, Kalimantan Timur, Jawa, Bali, Melayu, Banyuwangi dan Nusa Tenggara Timur tersebut, ikut serta “empu Musik Baru/Musik Kontemporer Indonesia”, Rahayu Supanggah.
Rahayu Supanggah juga lulusan San Diego State University, dan tokoh penting di balik pentas teater kolosal dunia yang ceritanya diambil dari cerita rakyat Bugis, I La Galigo yang dibesut sutradara kenamaan, Robert Wilson. Terakhir, Supanggah yang terbiasa keliling dunia untuk mengajar dan melakukan pementasan, meraih penghargaan dalam Festival Film Internasional Nantes. Festival terkemuka yang kerap disebut Festival Tiga Benua (Asia-Amerika Latin-Afrika) menganugerahi Supanggah untuk soundtrack dan komposisi musik terbaik, lewat garapannya dalam film klasik Opera Jawa yang disutradarai Garin Nugroho.
Lewat pentas kolosal, yang lantas digelar di Jakarta kemudian juga berlanjut ke Bali, musik Indonesia ditempatkan pada posisi bukan diangkat, tapi diberdayakan, dihargai dan lebih diperkenalkan kepada publik. Membuat kekayaan khasanah musik tradisi kita mendapatkan penghargaan dari publik. Memang sebuah perjuangan, karena seperti juga sosok Rizaldi dan Supanggah yang telah dikenal publik barat, sementara publik tanah air asing dengan keberadaan mereka! Seperti juga “asing” dengan kekayaan tradisi tanah airnya. Karena apa yang telah dilakukan, mungkin jauh dari sisi “gincu, gemerlap dan genit”nya musik industri yang telah sangat menguasai pasar dan bahkan hati publik tanah air!
Tak pelak, musik tradisi kita nan kaya memang terpinggirkan sejak lama justru oleh masyarakatnya sendiri. Sampai malah musisi kontemporer Jerman, Eberhard Schoener yang tergoda musik Bali, membuatnya “rela” bermukim berbulan-bulan di Bali, kemudian berkolaborasi dengan seniman tradisi kawakan, Agung Rai. Hasil pengembaraan Eberhard Schoener di Bali, kemudian dirilis di Eropa dan dunia lewat, Bali Agung.
Beruntunglah kita memiliki seorang Guruh Soekarnoputra. Di seputaran 1975an dekat dengan proyek eksperimentasi musik Schoener, Guruh lewat Guruh Gypsynya juga menggamit tokoh musik tradisi Bali lain, Kompyang Raka. Merekapun menghasilkan kolaborasi baru, rock disandingkan dengan bunyian gamelan Bali. Lahirlah komposisi pertamanya,’Barong Gundah’, lantas ‘Chopin Larung’, ‘Geger Gelgel’, ‘Indonesia Mahardhika’.
Menurut Guruh Soekarnoputra, yang berbeda pada eksperimentasi musiknya dan Eberhard Schoener adalah, ia memakai gamelan sebagai musik dasar. Bagaimana unsur musik barat bisa masuk pada instrumentasi gamelan Bali. Sementara Schoener, mencoba mengambil bunyi gamelan dan memasukkannya ke dalam synthesizernya. Synthesizer belum lama ditemukan pada waktu itu.
Begitulah, ada banyak pihak dari luar negeri, seperti juga Schoener, yang terpikat eksotisme kekayaan tradisi bangsa kita. Mereka secara intensif masuk, mempelajari dari dekat, secara aktif menggali dan menelusuri. Sementara publik kita, makin terseret arus musik-musik industri barat yang hiruk pikuk dan penuh sensasi.
World Music bisa saja jadi semacam pintu masuk, bagi musisi negara-negara dunia ketiga untuk muncul ke permukaan. Walau tetap dicurigai bahwa brand World Music tak lain adalah akal-akalan industrialis musik barat “merampas” dan mencerabut musik-musik tradisi tersebut dari akar tradisinya, menduniakannya, namun lantas menguasainya!
Ada banyak nama-nama musisi ataupun grup yang tetap mencoba menggali lebih dalam, bergaul dan mengakrabi musik tradisi. Lantas membawanya keliling dunia, memperkenalkannya kepada dunia internasional. Selain nama-nama di atas, masih ada Discus, Djadug Ferianto dan Kua Etnika, Gilang Ramadhan dan Nera, Geliga dengan Jazz Melayunya, Didi AGP, Talago Buni dari Sumatera Barat, Wayan Sadra dan Sonoseni Ensemble dari Solo, Sapto Rahardjo dari Jogja, Cilay Ensemble dari Jakarta. Juga belakangan muncul nama-nama muda, antara lain Viky Sianipar dan Kulkul dari Jakarta, yang meracik jazz dengan musik tradisi Tapanuli dan Bali.
Belum lagi Dewa Budjana lewat serangkaian album solonya, termasuk pula gitaris lain, Tohpati. Ataupun musisi muda lain Riza Arshad dengan proyek Simakdialog. Iwang Noorsaid yang tengah menyiapkan konsep jazz-etniknya yang baru, jangan lupakan bahwa Iwang adalah arsitek ‘Karapan Sapi’ salah satu hits milik grup Emerald.
Dan tak lupa termasuk Indra Lesmana, yang mempesona dengan kolaborasinya bareng kelompok Jegog Bali yang dipimpin tokoh muda seni tradisi Bali, I Nyoman Windha. Windha juga bisa dibilang setiap tahun memiliki jadwal melakukan performance di mancanegara. Kolaborasi Indra dan Jegog, didukung pula bassist Pra Budhi Dharma, tampil memukau dalam pentas Megalitikum Kuantum.
Belum lagi ada kelompok muda lain asal ibukota, Mahagenta. Dari Bali masih ada Saharadja dan Zurya drums-collaborations. Komunitas seni Nyawoung Aceh. Hingga musisi Bintang Indrianto dan seniman “serba bisa”, Sujiwo Tedjo. Leader Krakatau, Dwiki Dharmawan juga tengah menyiapkan kolaborasi lintas budaya dalam World Peace Project-nya, seperti juga bassist Pra Budhi Dharma yang memiliki proyek “etno-techno”nya bersama Syaharani, Culture Music Factory.
Namun memang semuanya tetap dituntut berjuang dan berjuang, sepenuh tenaga. Berjuang untuk tetap menegakkan identitasnya, menjual idealismenya. Perlu perjuangan “spartan” lantaran tetap saja sejauh ini publik masih memandang “sebelah mata” segenap kreasi bermusik mereka tersebut.
Walau begitulah keajaiban yang terjadi. Sejatinya, nama-nama tersebut sebagian besar justru lebih dikenal publik luar negeri. Jadi ironis, bak hujan emas di negeri orang tapi “hujan batu” di negerinya sendiri.
Situasinya emang miris, konser-konsernya minim penonton. Rekamannyapun “setali tiga uang”, pasar sempit katanya. Apalagi tontonan di televisi, walau stasiun televisi makin banyak sekalipun kayak sekarang, tetap saja semua kompak alergi dengan jenis musik ini. Mungkin seperti juga yang dialami “musik-musik pinggiran” lain, perlu upaya-upaya terobosan lain atau strategi khusus. Demi membuka peluang lebih lebar, untuk muncul dan dikenal. Dimanapun dan kapanpun. Pun ketika ini menyangkut kekayaan tradisi sendiri, mencakup persoalan pelestarian dan penghargaan.
Jacob Oetama dari Kompas menuliskan dalam sambutan di konser Megalitikum-Kuantum, dari pengalaman sejarah kita tahu bahwa suatu bangsa mengembangkan dan membangun dirinya menjadi bangsa maju tak hanya dengan modal ilmu pengetahuan, tehnologi, industri dan perdagangan. Tetapi juga berpangkal tolak dari dan berbekal dengan nilai-nilai budaya dan seninya.
Keluhuran nilai-nilai seni dan budaya bangsa kita telah sekian lama, mencengangkan kaum musik barat, tak hanya sekedar mengundang musisi ataupun grup-grup kita untuk berpentas di negeri mereka. Sehingga memang benar-benar berpentas di luar negeri, disaksikan penonton dari publik negeri-negeri tersebut. Bandingkan dengan banyak aksi tour show kelompok pop dan rock hingga Amerika sekalipun, namun yang mengundang dan menonton “hanyalah” orang-orang satu tanah air juga adanya.
Perlu diketahui adanya bentuk penghargaan dengan menempatkan ‘Ketawang Puspawarna’, gending besutan sang empu, Ki Tjokrowarsito (kini 102 tahun), menjadi salah satu dari wakil bunyi-bunyian di bumi dalam proyek luar angkasa NASA, Voyage, di tahun 1977. Ditempatkan bersama karya Johann Sebastian Bach, musik perkusi Senegal, ‘Johnny B.Goode’ karya Chuck Berry, Shakuhachi dari Jepang, ‘Melancholy Blues’ karya Louis Armstrong, Wolfgang Amadeus Mozart, Stravinsky, Mariachi dari Mexico sampai Beethoven dan beberapa musik tradisi lain dari seluruh penjuru dunia.
Tapi harus dicatat, ‘Ketawang Puspawarna’ ditempatkan di urutan kedua, setelah Johann Sebastian Bach! Dan ketertarikan barat pada gamelan malah telah terjadi sejak seputaran tahun 1890an, saat komposer kenamaan Claude Debussy mendengarkan dan terkesima akan gamelan di Paris. Kalau sudah demikian “jauh” kekaguman dan ketertarikan serta penghargaan datang dari mana-mana, sebuah bentuk nyata legitimasi atas kekayaan tradisi kita yang membanggakan, apakah bijaksana bila kita tetap memendam saja penghargaan dari kita sendiri? Lebih parah, kalau malah seperti tidak peduli. Aduh!
World Music bisa jadi salah satu sarana menembus pergaulan musik dunia, dan sekaligus alat meraih “posisi terhormat” di pentas musik dunia. Tapi yang terlebih-lebih lagi, kekayaan seni budaya kita memang nyata dan hidup di sekitar kita. Walau sekali lagi tidak memiliki “gincu, kegenitan, sensasi” seperti musik-musik industri yang sangat mendominasi dan diprioritaskan dimana-mana saat ini. Lalu, kalau bukan kita siapa lagi yang harus peduli dan menghargainya?*****
Lihat media review lainnya
|
|