| |
 |
|
SOL PROJECT - BIOGRAPHY
SOL PROJECT terdiri dari
Anggota:
- Rudy Octave (Indonesian - Pianist)

- Cecilia Ventura (Indonesian - Vocalist, Timbales)

- Faiser Florez (Colombian - Conga)

- Rudy Octave (Indonesian - Pianist)

- Cecilia Ventura (Indonesian - Vocalist, Timbales)

- Faiser Florez (Colombian - Conga)

Additional players:
- Sony wicaksono (drummer, kecapi, percussionist)
- Yogi Dharmawan (bassist & Kecapi)
- Philippe Chiminato (Conga, timbale, Bongo & Backing vocal)
- Iwan Wiradz (Gendang, Bongo, Conga, Toys & Backing vocal)
- Kevin Howard, (Trumpeter & Engineer)
- Adi Harmonia (Trumpeter & Backing vocal)
- Yoes Radjab (saxophone tenor/ alto/ sopran, backing vocal & kecapi)
- Wanto (Trombone & Backing vocal)
- Slamet Widjarnako (Mocopat/Javanese tradition Singer & Kecapi)
- Ketut (Balinese tradition flute, gamelan & Tradition Balinese singer)
Crew:
- Adi Wibowo, (Stage Manager)
- Sugeng Djoko (Road manager)
- Iwan
Riders:
Untuk anda yang menbutuhkan riders, silakan klik disini Jika ada pertanyaan silakan email ke rudyoctave@sol-project.com
SOL PROJECT
Adalah sekumpulan musisi asal Indonesia dan colombia yang mencoba menggabungkan unsur musik budaya indonesia dan amerika selatan.
Format lagu yang direkam pada compact disc pada Project pertama adalah lagu hits Indonesia lama dan sangat kontras dan jauh dari kesan irama amerika latin.
Konsep utamanya adalah: Segala instrumen dan bunyi-bunyian asal tradisi amerika selatan digantikan atau dicampur dengan konsep bunyi-bunyian instrumen etnik indonesia tetapi tanpa meninggalkan irama aslinya, seperti irama Salsa, Cumbia, Guajira, Cha-cha-cha, merengue, dan lain-lain.
Pendekatan kedua unsur budaya Amerika selatan dan Indonesia ini bisa tergambar dari kolaborasi instrumen dan irama yang dipakai untuk setiap lagunya.
Sol project telah menghasilkan percampuran antara tradisi tembang mocopat dengan Abakua nama ragam ketukan conga afro-cuban, di campur juga dengan suling bali, suling batak, kecapi batak, kecapi jawa, dengan irama guajira dan salsa, atau guaguanco bercampur dengan irama kroncong.
Untuk project kedepan, Sol project sedang merampungkan percampuran antara irama merengue dengan gamelan bali.
Meskipun mengusung lagu-lagu berirama latin Amerika, Sol project berada didalam genre world music, sebuah genre musik yang menampilkan percampuran musik dan bunyi-bunyian tradisi satu bangsa atau lebih dan bercampur dengan instrumen atau bunyi-bunyian modern
World Music
Manu Dibango, Fela Anikulapo Kuti, King Sonny Ade. Nama-nama di atas, membuka jalan bagi munculnya istilah world music, lebih popular lagi macam Youssou N’Dour, Ali Farka Toure, Alpha Blondy, Baaba Mal, Angelique Kidjo, dan Thomas Mapfumo. Adalah musisi asal afrika yang berhasil “mencapai”industri world musik di awal-awal dibentuknya istilah world beat atau yg sekarang lebih dikenal dengan world music.
World music di Indonesia telah berkembang sejak lama bisa disebutkan beberapa musisi mulai dari Guruh Soekarnoputra dan kompyang raka, Krakatau bersama Dwiki Dharmawan, Samba sunda, sampai Balawan, masih ada Discus, Djadug Ferianto dan Kua Etnika, Gilang Ramadhan dan Nera, Geliga dengan Jazz Melayunya, Didi AGP, Talago Buni dari Sumatera Barat, Wayan Sadra dan Sonoseni Ensemble dari Solo, Sapto Rahardjo dari Jogja, Cilay Ensemble dari Jakarta. Juga belakangan muncul nama-nama baru, antara lain Viky Sianipar yang meracik musik new age dan tradisi tapanuli, dan Kulkul dengan mengusung jazz bernuansa Bali.
World Music bisa saja jadi semacam pintu masuk, bagi musisi negara-negara dunia ketiga untuk muncul ke permukaan, ini dibuktikan dengan hadirnya musisi seperta ravi shankar, Gloria Estefan, Rich a la Rakha di akhir 60an, yang menampilkan kolaborasi drummer legendaries Buddy Rich dengan pemain tabla Alla Rakha dan pemain sitar Vilayat Khan. Selain itu juga termasuk rekaman Brazillian Music, Sergio Mendes, Gilberto Gil, Djavan hingga Arturo Sandoval dan Tito Puente adalah musisi dari dunia ketiga yang telah mendunia
The term worldbeat refers not to one specific style of music, but to a certain sensibility — namely, the fusion of disparate musical styles in ways that are only possible from a globalized, multicultural perspective. The results can range from Westernized pop or dance music to wild, genre-hopping experimentalism, but the central, unifying feature of worldbeat is that it's a conscious attempt to bring world music to a wider audience. Frequently, this involves modernizing traditional sounds with up-to-date technology, or borrowing the most relevant elements from Western pop and rock, which have spread all over the world and affected other nations' pop-music scenes to varying degrees(World Beat from Allmusicguide.com) –Sumber: Gideon Momongan, pengamat world music
|
|